Pasokan Listrik dan Koneksi Internet Terbatas, Anak-anak di Gaza Kesulitan Belajar Lewat Daring

- 17 Oktober 2020, 21:24 WIB
Seorang warga Jalur Gaza sedang membimbing anak-anaknya dalam pembelajaran daring. /Al Jazeera/Ashraf Abu Amra

PR BEKASI – Anak-anak sekolah di Jalur Gaza, Palestina mengaku kesulitan mengikuti pembelajaran daring setelah pemerintah menerapkan lockdown di wilayah tersebut akibat pandemi COVID-19.
 
Sebelumnya, Kepresidenan Palestina sejak 5 Maret 2020 lalu telah mengumumkan keadaan darurat akibat pandemi COVID-19 dengan menutup semua institusi pendidikan sebagai bagian dari tindakan pencegahan untuk mencegah penyebaran virus tersebut.
 
Blokade 13 tahun Israel yang melumpuhkan Gaza telah memperparah kondisi yang mengakibatkan kekurangan listrik dan gangguan internet secara teratur, yang menambah tantangan bagi pelaksanaan pembelajaran daring di daerah tersebut.

Baca Juga: Prediksi dan Link Live Streaming Newcastle vs MU Minggu Dini Hari: Misi Bangkit Harry Maguire Cs

Dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari situs berita Al Jazeera, pada awal September pemerintah yang berbasis di Gaza memutuskan untuk membuka kembali sekolah-sekolah tersebut.
 
Namun, setelah terdeteksinya kasus COVID-19 pertama di Gaza menyebabkan seluruh sekolah ditutup lagi.
 
Walaa Jamal (33), seorang warga Jalur Gaza mengakui anak-anaknya kesulitan mengikuti pembelajaran lewat daring tersebut karena dinilai kurang efisien.
 
“Pembelajaran jarak jauh melelahkan karena layar ponsel terlalu kecil, tetapi tidak ada pilihan lain. Anak-anak tidak memiliki buku dan mereka perlu mengikuti pelajaran mereka atau mereka tidak akan mendapatkan ilmu,” kata Walaa.

Baca Juga: Hasil Survei: Anak Perempuan Lebih Rentan Mengalami Depresi Selama Pandemi, Apa Sebabnya?

Walaa yang tiga anaknya duduk di bangku sekolah dasar serta satu di taman kanak-kanak ini mengatakan anak-anaknya mendapat materi pembelajaran dari gurunya lewat aplikasi WhatsApp.
 
“Ketika anak-anak saya mendapat tugas dari guru mereka di WhatsApp mereka menuliskannya di kertas, saya mengambil foto untuk jawabannya dan kemudian saya kirim ke guru melalui WhatsApp untuk mendapatkan penilaian dan tanggapan mereka,” tambahnya.
 
Dirinya mengaku tidak mampu membeli laptop atau perangkat pembelajaran daring lainnya karena hanya mendapatkan gaji harian terbatas akibat blokade Israel dan situasi ekonomi yang mengerikan di Gaza.
 
“Saya telah memiliki ponsel ini selama empat tahun dan sekarang koneksi internetnya sangat lambat, dan dengan delapan jam pemadaman listrik kami tidak dapat mengisi daya sampai penuh untuk pembelajaran pada pagi hari,” kata Walaa.

Baca Juga: Prediksi dan Link Live Streaming Manchester City vs Arsenal Malam Ini: Duel Guru dan Murid

Menurut Pusat Statistik Biro Palestina, sebanyak 29 persen keluarga di Gaza hanya memiliki satu laptop di rumah mereka.
 
Selain itu, statistik menunjukkan 73 persen keluarga Palestina di Jalur Gaza memiliki layanan internet dasar di rumah mereka, sementara 78 persen rumah tangga memiliki setidaknya satu ponsel pintar.
 
Selain keterbatasannya peralatan pembelajaran daring, koneksi internet yang buruk juga menjadi salah satu hambatan bagi warga Jalur Gaza dikarenakan Israel masih melarang layanan data 3G di Gaza.***

Editor: M Bayu Pratama

Sumber: Al Jazeera


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

DeskJabar

1.000 Ekor Komodo Dipasangi Chip

28 Oktober 2020, 20:51 WIB
X