PDIP Klarifikasi Sikap Politisinya yang Tolak Vaksin, Refly Harun: Ini Kan Upaya Untuk Memaksakan

- 14 Januari 2021, 10:00 WIB
Pakar hukum tata negara Refly Harun yang setuju dengan klarifikasi PDIP terhadap sikap politisnya. /Instagram.com/@reflyharun/

PR BEKASI - Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengklarifikasi sikap anggota politisinya yang juga merupakan anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning yang menolak untuk disuntik vaksin Covid-19 Sinovac dan memilih untuk membayar denda.

Hasto menjelaskan bahwa pernyataan Ribka sebenarnya bermaksud agar kepentingan dan keselamatan masyarakat menjadi nomor satu dalam pelaksanaan program vaksinasi Covid-19.

"Ribka Tjiptaning, jika melihat pernyataan secara menyeluruh sebagai satu kesatuan pesan, yang disampaikan adalah mengingatkan garis kebijakan politik kesehatan yang seharusnya kedepankan kepentingan dan keselamatan masyarakat," kata Hasto Kristiyanto.

Baca Juga: Indonesia Tidak Boleh Menggugat Jika Vaksin Covid-19 Bermasalah dan Ada Efek Membahayakan

Menanggapi hal tersebut, pakar hukum tata negara Refly Harun setuju dan menjelaskan persoalan lainnya yang berangkat dari pernyataan RIbka tersebut.

"Nah persoalannya adalah, Ini kan ada upaya untuk memaksakan, Wamenkumham mengatakan mereka yang menolak vaksin itu bisa dipidanakan, kira-kira Ribka mau dipidanakan berdasarkan pasal 93 UU no. 6 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, ancamannya satu tahun atau denda Rp100 juta," ujar Refly Harun.

Padahal menurutnya tidak salah seorang Ribka yang merupakan anggota DPR menyampaikan hal tersebut, karena saat ini kredibilitas vaksin Sinovac memang menjadi sebuah tanda tanya di tengah masyarakat.

Baca Juga: Polsek Bekasi Kota Gelar Empati Building bagi Warga yang Jalani Isolasi Mandiri

"Memang masih terjadi debat di masyarakat soal keunggulannya, efikasinya, yang jelas kalau di Brasil itu turun lagi sampai 50-an persen saja, di kita kalau tidak salah 60-an persen, tapi intinya angkanya tidak setinggi vaksin lainnya, seperti Pfizer," tuturnya.

Halaman:

Editor: Ikbal Tawakal

Sumber: YouTube Refly Harun


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X