Bertahun-tahun Masuk Kurikulum Sekolah, Manga Barefoot Gen Ditarik oleh Dewan Pendidikan Hiroshima

- 5 Maret 2023, 12:08 WIB
Barefoot Gen kisahkan masa bom atom Hiroshima, Jepang.
Barefoot Gen kisahkan masa bom atom Hiroshima, Jepang. /The Japan Times/

PATRIOT BEKASI - Dewan pendidikan Hiroshima telah memutuskan untuk menarik komik terkenal "Hadashi no Gen" (Barefoot Gen), yang menggambarkan pengeboman atom di kota Jepang bagian barat dari kurikulum perdamaian untuk sekolah umum, lantaran memicu reaksi balik dari kelompok penyintas dan lainnya.

Barefoot Gen, mengisahkan kehidupan anak sekolah dasar bernama Gen, sebagian didasarkan pada pengalaman mendiang penciptanya Keiji Nakazawa, yang terkena bom atom AS di Hiroshima tahun 1945 pada usia 6 tahun.

Pertama kali dirilis pada tahun 1973, serial ini telah diterbitkan di lebih dari 20 negara, dan sebagian karyanya telah ditampilkan dalam program pendidikan perdamaian Hiroshima sejak tahun fiskal 2013.

Namun, mulai tahun ajaran April 2023, dewan akan menggantinya dengan pelajaran tentang seorang penyintas yang kehilangan anggota keluarga dalam serangan bom atom dan aktivitas putrinya untuk meneruskan ceritanya, dengan mengatakan bahwa seiring pergantian waktu perubahan untuk beradaptasi pun terjadi.

Baca Juga: Anaknya Jadi Korban Bullying, Pengacara Sunan Kalijaga Lapor Polisi

Di sisi lain, dewan menegaskan langkah mereka bukan upaya menjauhkan anak-anak dari manga, keputusannya telah mendapat tentangan, termasuk dari penyintas bom atom terkemuka dan online.

Kunihiko Sakuma, yang mengepalai asosiasi untuk kelompok penyintas bom atom Hiroshima dan yang terpapar bom pada usia 9 bulan, meminta pejabat kota untuk memikirkan kembali perubahan tersebut.

Sebagai orang yang selamat, dia berkata, "Saya belajar bagaimana hidup dari Gen. Saya tidak bisa mentolerir keputusan untuk menghapusnya."

Berbicara di sebuah acara di Hiroshima, Sueichi Kido, sekretaris jenderal Konfederasi Organisasi Penderita Bom A dan H Jepang, juga menyerukan pemikiran ulang, dengan mengatakan bahwa manga tersebut "menggambarkan setiap bagian dari penderitaan dan cara hidup para penyintas bom atom".

Baca Juga: Lagi! HMD Global Rilis Ponsel Harga Meriah, Nokia G22 Hasil Kolaborasi iFixit, Simak Spesifikasi di Sini

Ketika berita itu muncul pada 16 Februari, pengguna media sosial membagikan tagar yang menentang penghapusan komik tersebut, beberapa dari mereka mengunggah gambar adegan paling terkenal demi menekankan pentingnya pesan antiperangnya.

Pada 24 Februari, dewan pendidikan mengatakan telah menerima sekitar 300 pertanyaan tentang keputusannya, banyak di antaranya menentang.

Dalam kutipan yang digunakan dalam silabus kelas tiga sekolah dasar, Gen yang miskin mulai mencari uang untuk menghidupi ibunya yang sedang hamil dengan mencoba "rokyoku", seni mendongeng musik tradisional, dan mencuri ikan koi dari kolam di rumah kaya, tempat tinggal seseorang.

Menurut catatan yang diperoleh Kyodo News dari pertemuan panel ahli yang dibentuk pada tahun 2019 untuk merevisi program perdamaian, peserta menyatakan keberatan tentang kutipan manga yang digunakan.

Mereka mengatakan bahwa adegan yang melibatkan pertunjukan rokyoku Gen sulit untuk dipahami, dan terbatasnya materi yang digunakan dari manga tidak cukup untuk mewakili realitas pengeboman.

Lebih lanjut, muncul juga kekhawatiran mengenai apakah manga tersebut membenarkan aksi pencurian.

Baca Juga: Episode Pertama Attack On Titan Final Season 4 Part 3 Tembus Rating 9,23, Pemimpin 10 Besar Anime TOP

Ada juga komentar yang mendukung, di antaranya mengatakan bahwa anak-anak dapat dengan mudah memahami Gen dan guru dapat memberikan penjelasan tambahan tentang penyanyi rokyoku.

Menanggapi keputusan dewan, istri dari sang mangaka, Misayo, mengatakan kekhawatiran tersebut memalukan, lantaran mendiang suaminya membuat komik sembari memikirkan bagaimana cara menyampaikan kengerian bom atom pada anak-anak.

Nakazawa, yang meninggal pada tahun 2012, kehilangan ayah, kakak perempuan dan adik laki-lakinya akibat pengeboman, dan adik perempuannya yang lahir pada hari serangan itu meninggal beberapa bulan kemudian.

Misayo mencatat bahwa suaminya "sangat gembira" ketika dia mengetahui bahwa manganya akan ditampilkan dalam kurikulum sekolah.***

Editor: M Hafni Ali

Sumber: Japan Today


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah