Tanggapi Tewasnya Guru Sejarah di Prancis, Charlie Hebdo: Intoleransi Telah Lewati Ambang Batas

- 17 Oktober 2020, 21:34 WIB
Majalah Charlie Hebdo rilis karikartur Nabi Muhammad Saw lagi. /ABC News

PR BEKASI - Seorang guru sejarah dan pendidikan kewarganegaraan ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan setelah lehernya digorok oleh orang tidak dikenal di dekat lingkungan sekolahnya.

Menurut laporan media Prancis, guru tersebut pada awal bulan Oktober telah menunjukkan kartun itu kepada siswanya sebagai bagian dari pelajaran kewarganegaraan.

Sebuah rangkaian pesan di Twitter yang dikirim pada 9 Oktober berisi video seorang pria yang mengatakan putrinya, seorang Muslim adalah salah satu murid di kelas tersebut. Dia terkejut dan kesal dengan tindakan guru tersebut.

Pria dalam video tersebut mendesak pengguna Twitter untuk mengadu kepada pihak berwenang. Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian video tersebut secara independen.

Baca Juga: Kecewa Hanya Diterima Stafsus, BEM SI Janji Geruduk Lagi Istana Tepat 1 Tahun Kepemimpinan Jokowi 

Menanggapi serangan hari Jumat di luar sekolah, Charlie Hebdo menulis di akun Twitternya, "Intoleransi telah melewati ambang batas baru dan tampaknya tidak memberikan dasar apa pun dalam memaksakan terornya ke negara kita."

Tindakan yang dilakukan guru tersebut dianggap telah menghujat umat Islam, kata pejabat Prancis pada Jumat 16 Oktober 2020. Hal ini juga ditanggapi Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

"Salah satu warga kami dibunuh hari ini karena dia mengajar, dia mengajar murid-muridnya tentang kebebasan berekspresi," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron seperti dikutip PikiranRakyat-Bekasi.com dari Reuters.

"Rekan kami diserang secara mencolok, menjadi korban serangan teroris Islam," kata Macron.

Halaman:

Editor: M Bayu Pratama

Sumber: Reuters


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X